Bank Sampah

8 February 2013 | 10:33 WIB

BANK SAMPAH SEBAGAI BENTUK PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN PRINSIP  3R 

(disarikan dari SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP RIPROF. DR. BALTHASAR KAMBUAYA, MBAMALANG, 2 NOVEMBER 2012)


Salah satu filosofi dasar ditetapkannya Undang Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah sudah saatnya memutarbalikan cara pandang kita terhadap sampah dan cara kita memperlakukan sampah. Sudah saatnya kita memandang sampah sebagai sesuatu yang punya nilai guna dan manfaat. Sehingga sudah tidak layak lagi jika sampah dibuang percuma. Idiom ‘dulu lawan sekarang kawan’ adalah istilah yang sungguh tepat memaknai perubahan paradigma tentang sampah.

Sebagai upaya ‘membumikan’ perubahan paradigma tentang pengelolaan sampah, praktek mengolah dan memanfaatkan sampah harus menjadi langkah nyata baru kita dalam mengelola sampah, meninggalkan cara lama yang hanya membuang sampah dengan mendidik dan membiasakan masyarakat memilah, memilih, dan menghargai sampah sekaligus mengembangkan ekonomi kerakyatan melalui pengembangan Bank Sampah.

Pelaksanaan bank sampah mengandung potensie konomi kerakyatan yang cukup tinggi karena kegiatan bank sampah dapat memberikan hasil nyata bagi masyarakat dalam bentuk peluang kerja, penghasilan tambahan bagi pegawai bank sampah dan masyarakat penabung sampah. Masyarakat dan pemerintah daerah akan memperoleh keuntungan nyata berupa lingkungan yang bersih dan sehat serta volume timbulan sampah yang diangkut keTPA semakin berkurang sehingga mengefisienkan biaya angkutansampahdanmengoptimalkanmasapakaiTPA
Tujuan membangun bank sampah adalah strategi dalam megembangkan danmembangun kepedulian masyarakatagar dapat ‘berkawan’ dengan sampah bukan ‘berlawan’. Dari perspektif ekonomi kerakyatan, simpanan uang dari tabungan sampah dan pendapatan tambahan dari hasil penjualan kompos dan produk kreatif dari sampah adalah manfaat nyata bank sampah. Istilah yang tepat menggambarkan manfaat sampah tersebut adalah from trash to cash

Tahun 2012 ini merupakan momentum awal keberhasilan Indonesia dalam membangun bank sampah sebagai salah satu strategi melaksanakan gerakan 3R (reduce,reuse,dan recycle).  Sejak  Januaris .sd. September 2012, bank sampah berkembang cukup pesat, baik dari sisi jumlah kota yang membangun bank sampah,jumlah unit bank sampah, jumlah sampah yang terkelola maupun nilai rupiah yang ditransaksikan.
Jumlah kota yang mengembangkan bank sampah meningkat 19 kota (86%) dari 22 kota menjadi 41 kota dengan penambahan jumlah unit bank sampah dari 471 unit menjadi 585 unit, mengalami peningkatan sebanyak 114 unit (24%). Sementara itu, jumlah sampah yang terkelola di bank sampah meningkat 81% dari 755,6 ton / bulan menjadi 1.366,9 ton/ bulan dengan total nilai transaksi rupiah melonjak sebesar 11% dari Rp 1,6 milyar / bulan menjadi Rp 1,8 milyar/ bulan.

Namun demikian,  angka- angka yang tersebut diatas sesungguhnya masih terhitung kecil jika kita melihat jumlah timbulan sampah yang semakin meningkat. Sehingga masih tersimpan peluang dan potensi yang sangat besar bagi kita untuk terus mengembangkan bank sampah, tentunya melalui komitmen dan kerja keras kita semua.

Peluang tersebut semakin terbuka lebar karena kedepan, dalam rangka menindak lanjuti dan menerapkan kebijakan extended producer responsibility (EPR) sebagaimana diamanatkan dalam PP No. 81 Tahun 2012, posisi bank sampah akan menjadi sangat strategis karena akan difungsikan sebagai collection point atau dropping point bagi pengumpulan dan penimbangan sampah yang berasal dari barang dan /atau kemasan yang dikenai kewajiban EPR.

Dalamkesempataninikembaliinginsayategaskanbahwa,pengembanganbanksampahiniharus menjadi milestone perwuju dan pembangunan yang mengentaskan kemiskinan (propoor), pembangunan yang mampu menciptakan peluang kerja (projob), dan pembangunan yang melindungi dan melestarikan lingkungan hidup (proenvironment).

Tahun 2012, posisi bank sampah akan menjadi sangat strategis karena akan di fungsikan sebagai collection point atau dropping point bagi pengumpulan dan penimbangan sampah yang berasal dari barang  dan/ atau kemasan yang dikenai kewajiban EPR
Dalam kesempatan ini kembali ingin saya tegaskan bahwa ,pengembangan bank sampah ini harus menjadi milestone perwujudan pembangunan yang mengentaskan kemiskinan (propoor), pembangunan yang mampu menciptakan peluang kerja (projob), dan pembangunan yang melindungi dan melestarikan lingkungan hidup (proenvironment)

Sebagai bagian dari tanggungjawab Pemerintah dalam menyiapkan pedoman pelaksanaan pengelolaan sampah dan 3R tingkatnasional, Kementerian Lingkungan Hidup telah menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui BankSampah

Linknya dapat didownload di

PERATURAN MENTERI NOMOR 13